Anak tantrum sering membuat orang tua merasa panik, lelah, dan bingung. Anak dapat menangis, berteriak, berguling, menolak arahan, atau bahkan memukul. Namun, tantrum merupakan bagian dari perkembangan emosi, terutama pada usia 3–6 tahun. Pada tahap ini, anak masih belajar mengenali perasaan, mengendalikan keinginan, serta menyampaikan kebutuhan. Karena itu, respons orang tua sangat menentukan proses belajar tersebut.
Pertama, membentak anak saat tantrum menjadi kesalahan yang perlu dihindari. Ketika orang tua ikut meninggikan suara, suasana biasanya semakin tegang. Akibatnya, anak semakin sulit menenangkan diri. Sebaliknya, gunakan suara lembut, singkat, dan tegas. Misalnya, katakan, “Mama tahu kamu marah. Yuk, kita tenang dulu.” Dengan begitu, anak mendapatkan contoh cara menghadapi emosi tanpa menyakiti orang lain.
Kedua, memaksa anak segera berhenti menangis juga kurang tepat. Kalimat seperti “Jangan menangis!” justru dapat membuat anak merasa tidak memahami emosinya. Sebaliknya, bantu anak mengenali perasaannya. Anda dapat mengatakan, “Kamu kecewa karena belum boleh bermain, ya?” Selanjutnya, berikan waktu agar anak menenangkan diri. Dengan demikian, anak perlahan memahami bahwa sedih, kecewa, dan marah merupakan emosi yang wajar.
Ketiga, memberikan semua keinginan anak agar tantrum cepat berhenti juga termasuk kesalahan orang tua saat menghadapi anak tantrum. Cara tersebut memang dapat membuat suasana tenang untuk sementara. Namun, anak dapat menganggap tangisan atau teriakan sebagai cara mendapatkan sesuatu. Karena itu, tetap pertahankan aturan yang sudah Anda buat. Selain itu, tunjukkan kasih sayang tanpa mengubah batasan hanya karena anak menangis.
Keempat, mengancam atau menghukum anak saat tantrum dapat memperburuk keadaan. Ancaman seperti “Kalau masih menangis, Mama tinggal!” dapat membuat anak merasa takut dan tidak aman. Sebaliknya, berikan batasan yang jelas. Misalnya, “Kamu boleh marah, tetapi kamu tidak boleh memukul.” Kemudian, tawarkan pilihan sederhana, seperti duduk bersama atau mengambil waktu untuk menenangkan diri.
Kelima, mengajak anak berdebat ketika emosinya sedang memuncak juga sering menjadi kesalahan. Saat tantrum berlangsung, anak biasanya sulit menerima penjelasan panjang. Oleh sebab itu, tunggu sampai emosinya lebih stabil. Setelah itu, ajak anak membicarakan penyebab tantrum. Selanjutnya, bantu anak menemukan cara yang lebih tepat untuk menyampaikan keinginan.
Pada akhirnya, menghadapi tantrum membutuhkan kesabaran dan konsistensi. Orang tua tidak perlu menjadi sempurna. Namun, orang tua perlu terus belajar memberikan respons yang tenang, tegas, dan penuh empati. Dengan menghindari kesalahan orang tua saat menghadapi anak tantrum, Anda membantu anak belajar mengelola emosi secara bertahap. Selain itu, hubungan orang tua dan anak pun dapat tumbuh semakin hangat, aman, dan positif.
Selain itu, perhatikan pemicu tantrum seperti rasa lapar, lelah, perubahan rutinitas, atau keinginan yang belum terpenuhi. Dengan mengenali pemicu tersebut, orang tua dapat melakukan pencegahan lebih awal. Misalnya, berikan waktu istirahat, tawarkan pilihan, dan sampaikan aturan sebelum kegiatan dimulai. Dengan cara tersebut, anak memiliki kesempatan lebih besar untuk mengikuti arahan tanpa merasa tertekan. Karena itu, pendampingan konsisten hari membantu anak membangun kemampuan regulasi emosi secara perlahan dan percaya diri.





