Menghadapi anak yang marah saat gadget diambil menjadi tantangan tersendiri bagi orang tua, terutama ketika anak berusia 3–6 tahun. Tidak jarang, anak menangis, berteriak, bahkan melempar barang ketika orang tua menghentikan waktu bermain dengan ponsel atau tablet. Namun, orang tua tidak perlu langsung panik atau membentak anak. Sebaliknya, orang tua perlu memahami penyebab perilaku tersebut dan menerapkan pola asuh yang tepat.
Pada usia dini, anak masih belajar mengendalikan emosi dan menerima batasan. Oleh karena itu, pendekatan yang penuh kasih sayang, konsisten, dan tegas dapat membantu anak memahami aturan penggunaan gadget.
1. Pahami Penyebab Anak Marah Saat Gadget Diambil
Sebelum memberikan teguran, orang tua perlu memahami alasan anak menunjukkan kemarahan. Gadget menghadirkan hiburan, warna, suara, dan permainan interaktif yang menarik perhatian anak.
Selain itu, anak usia dini belum memiliki kemampuan regulasi emosi yang matang. Akibatnya, mereka sering kesulitan menerima perubahan aktivitas secara tiba-tiba.
Oleh sebab itu, orang tua sebaiknya memahami perasaan anak terlebih dahulu. Misalnya, katakan, “Ibu tahu kamu masih ingin bermain, tetapi sekarang waktunya berhenti.” Dengan begitu, anak merasa didengar sekaligus mulai mengenal batasan.
2. Berikan Peringatan Sebelum Mengambil Gadget
Menghentikan aktivitas anak secara mendadak dapat memicu kemarahan. Karena itu, orang tua sebaiknya memberikan peringatan beberapa menit sebelum waktu bermain berakhir.
Contohnya, katakan, “Lima menit lagi kita selesai bermain gadget, ya.” Kemudian, ingatkan kembali ketika waktu hampir habis.
Selain membantu anak mempersiapkan diri, cara ini juga mengajarkan anak mengenal rutinitas dan memahami aturan. Dengan demikian, anak memiliki kesempatan untuk menyelesaikan aktivitasnya secara bertahap.
3. Tetap Tenang dan Hindari Membentak
Ketika anak menangis atau berteriak, orang tua sering ikut terpancing emosi. Padahal, respons orang tua sangat memengaruhi cara anak menghadapi situasi tersebut.
Oleh karena itu, tarik napas, gunakan suara yang lembut, dan hindari membentak atau mengancam anak. Selanjutnya, dekati anak dan bantu mereka menenangkan diri.
Misalnya, katakan, “Kamu boleh merasa marah, tetapi kamu tidak boleh melempar barang.” Kalimat ini membantu anak memahami bahwa setiap emosi dapat diterima, tetapi perilaku tertentu tetap memiliki batasan.
4. Alihkan Perhatian dengan Aktivitas Menyenangkan
Setelah anak mulai tenang, ajak mereka melakukan aktivitas lain yang menarik. Misalnya, orang tua dapat mengajak anak bermain balok susun, menggambar, membaca buku cerita, atau bermain di halaman.
Selain mengurangi ketergantungan pada hiburan digital, kegiatan tersebut juga membantu anak mengembangkan kreativitas dan keterampilan sosial.
Namun, orang tua perlu ikut terlibat agar anak merasa tertarik. Dengan demikian, anak dapat menikmati aktivitas baru tanpa terus mengingat gadget.
5. Terapkan Aturan Penggunaan Gadget Secara Konsisten
Anak membutuhkan aturan yang jelas agar memahami batasan. Oleh sebab itu, orang tua perlu menetapkan jadwal penggunaan gadget yang sesuai usia, kebutuhan, dan panduan kesehatan anak.
Selain itu, pastikan seluruh anggota keluarga menerapkan aturan yang sama. Jika hari ini orang tua melarang penggunaan gadget, tetapi besok memberikan gadget saat anak menangis, anak akan kesulitan memahami batasan.
Konsistensi membantu anak mengenali rutinitas dan belajar menerima konsekuensi secara bertahap.
6. Berikan Apresiasi Ketika Anak Berhasil Berhenti
Jangan hanya memberikan perhatian ketika anak menunjukkan kemarahan. Sebaliknya, berikan apresiasi ketika anak berhasil mengakhiri waktu bermain tanpa tantrum.
Misalnya, katakan, “Ibu senang kamu mau berhenti bermain dan menyimpan gadget sendiri.” Apresiasi tersebut membantu anak mengenali perilaku positif dan mendorong mereka mengulanginya.
Dampingi Anak dengan Kasih Sayang dan Ketegasan
Mengatasi anak marah saat gadget diambil membutuhkan kesabaran, konsistensi, dan komunikasi yang positif. Oleh karena itu, orang tua perlu memahami emosi anak sekaligus menerapkan batasan yang jelas.
Pada akhirnya, tujuan parenting bukan sekadar membuat anak berhenti menggunakan gadget, melainkan mengajarkan mereka mengelola emosi, menerima aturan, dan menikmati berbagai aktivitas di luar layar.





